MENGENANG DESTROYER INDONESIA

kri-irian-2Kalau kita menoleh ke belakang, kita pernah punya kapal perang cukup besar, yang nggak bakal bisa dimiliki lagi. Apalagid engan kemampuan anggaran Alutsista yang makin parah. Dulu kita punya kapal jenis Destroyer dengan ukuran 16.640 ton. Bandingkan dengan korvet terbaru kita yang hanya 1.700 ton seharga 2 triliun.

Kapal jenis Destroyer milik Indonesia itu, kini hanya tinggal kenangan. Kapal itu dibeli untuk merebut Irian Barat, agaknya alasan itulah yang kemudian membuat kapal besar TNILAL tersebut diberi nama KRI Irian.

KRI Irian ,adalah kapal penjelajah kelas Sverdlov dengan kode penamaan soviet Project 68-bis. Kapal jenis ini adalah kapal penjelajah konvensional terakhir yang dibuat untuk AL Soviet, 13 kapal diselesaikan sebelum Nikita Khrushchev menghentikan program ini karena kapal jenis ini dianggap kuno dengan munculnya rudal (peluru kendali). Kapal ini adalah versi pengembangan dari penjelajah kelas Chapayev.

KRI Irian sebelumnya adalah kapal Ordzhonikidze  dari armada Baltik, yang dibeli oleh pemerintah Indonesia pada tahun 1962. Saat itu KRI Irian adalah kapal terbesar dibelahan bumi selatan. Kapal ini digunakan secara aktif untuk persiapan merebut Irian Barat.

Panjang kapal itu mencapai  210 Meter, Lebar : 22 Meter, Draught: 6.9 Meter, Bobot : 16,640 Ton. Bandingkan dengan  kapal terbesar TNI-AL sekarang, hanya  Fregat Kelas tribal “hanya” yg berbobot 3.250 Ton.  Kecepatan KRI Irian mencapai  32.5 Knot. Perhatikan pula ketebalan bajanya,  untuk ukuran Belt :100 mm, Tower:150 mm, Dek :50 mm, Turret: 75 mm

Dizamannya dulu, KRI ini tergolong hebat dalam hal persenjataan: Yakni dengan 10 Tabung Torpedo anti Kapal Kaliber 533 mm, 12 Buah Kanon tipe 57 cal B-38 Kaliber 15.2 cm ( 6 depan , 6 Belakang) ,12 Buah Kanon ganda tipe 56 cal Model 1934 6 (twin) SM-5-1 mounts Kaliber 10 cm, 32 Buah kanon multi fungsi kaliber 3.7 cm, 4 Buah triple gun Mk5-bis turrets kaliber 20 mm (untuk keperluan Anti serangan udara)

kalau ingin mengetahui sejarahnya kenapa kapal ini dimiliki Indonesia. Memang teramat panjang. Tapi singkatnya,  pada 11 Januari 1961 Pemerintah Soviet mulai mengeluarkan instruksi kepada Central Design Bureau ‘17 untuk memodifikasi Ordzhonikidze supaya ideal beroperasi di daerah tropis. Modernisasi skala besar dilakukan untuk membuat kapal ini bisa beroperasi pada suhu +40′C, kelembapan 95%, dan temperatur air +30′C.

Tetapi perwakilan dari Angkatan Laut Indonesia yang kemudian mengunjungi kota Baltiisk menyatakan bahwa mereka tidak sanggup untuk menanggung biaya proyek sebesar itu. Akhirnya modernisasi dialihkan untuk instalasi genset diesel yang lebih kuat guna menggerakkan ventilator tambahan. Pada 14 Februari 1961 Kapal ini tiba di Sevastopol dan pada 5 April 1962 kapal ini memulai ujicoba lautnya.Pada saat itu Kru Indonesia untuk kapal ini sudah terbentuk dan ada di atas kapal. Mekanik kapal ini Bapak Yathizan, di kemudian hari menjadi Kepala Departemen Teknik ALRI. Begitu juga banyak dari pelaut yang lain,di kemudian hari banyak yang mampu menduduki posisi penting.

Operasional

Kapal ini datang ke Surabaya pada 5 Agustus 1962 dan dinyatakan keluar dari kedinasan AL Soviet pada 24 Januari 1963.Dalam sejarah Militer Soviet, Tidak pernah Uni Soviet menjual kapal dengan bobot seberat ini kepada negara lain kecuali kepada Indonesia. ALRI yang belum pernah mempunyai armada sendiri sebelumnya, belajar untuk mengoperasikan kapal-kapal canggih dan mahal ini dengan cara trial and error / coba-coba. Pada November 1962 tercatat sebuah mesin diesel kapal selam rusak karena benturan hirolis saat naik ke permukaan, sebuah destroyer rusak dan 3 dari 6 boiler KRI Irian rusak. Suhu yang panas dan kelembapan tinggi berefek negatif terhadap armada ALRI, akibatnya banyak peralatan yang tidak bisa dioperasikan secara optimal. Di lain pihak kehadiran kapal ini memberikan efek psikologis bagi Kapal 2x perang AL Belanda terutama Kapal Induk Belanda Kareel doorman dan membuat AL

Belanda secara drastis mengurangi kehadirannya di perairan Irian Barat. Apalagi pd saat itu TNI-AU jg mengoperasikan Bomber Tu-16 Badger yg bisa mengotong  2 Rudal anti kapal perangAS-1 Kennel (rudal ini besarnya sama dgn Pesawat Pemburu Mig 15). Pada 1964 Kapal Penjelajah ini sudah benar-benar kehilangan efisiensi operasionalnya dan diputuskan untuk mengirim KRI Irian ke Galangan Kapal Vladivostok untuk perbaikan. Pada Maret 1964 KRI Irian sampai di Pabrik Dalzavod. Para pelaut dan teknisi Soviet terkejut melihat kondisi kapal dan banyaknya perbaikan kecil yang seharusnya sudah dilakukan oleh para awak kapal ternyata tidak dilakukan. Mereka juga tertarik dengan sedikit modifikasi yang dilakukan ALRI yaitu mengubah ruang pakaian menjadi ruang ibadah (sesuatu yang tidak mungkin terjadi di negara komunis)

Setelah perbaikan selesai pada Agustus 1964 , kapal menuju Surabaya dengan dikawal Destroyer AL Soviet.Setahun kemudian (1965) terjadi pergantian pemerintahan. Kekuasaan pemerintah praktis berada di tangan Soeharto.Perhatian Soeharto terhadap ALRI sangat berbeda dibandingkan Sukarno. Kapal ini dibiarkan terbengkelai di Surabaya, bahkan terkadang digunakan sebagai penjara bagi lawan politik Soeharto Pada 1970 kapal yang terbengkelai ini mulai terisi air. Tidak ada orang yang peduli untuk menyelamatkan Kapal Penjelajah ini.Tercatat KRI Irian dibesituakan di Taiwan pada tahun 1972 dengan alasan kekurangan komponen suku cadang kronis.****

Created by: didi kurniawan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: